← Kembali ke Berita

Hari Agama Sedunia 2026: GMNI Kota Metro Ajak Kaum Marhaen Perkuat Ketuhanan yang Berkebudayaan

Diterbitkan pada 18 Jan 2026

Gambar Berita

METRO, LAMPUNG – Memperingati Hari Agama Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 Januari, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Metro, Lofty Romansa, menyerukan refleksi mendalam bagi seluruh elemen pemuda dan rakyat Indonesia. Dalam pernyataannya, Lofty menekankan bahwa keberagaman agama di Indonesia harus diletakkan dalam bingkai Pancasila sebagai alat pemersatu, bukan pemecah belah.

"Hari Agama Sedunia bagi kita di Indonesia, khususnya bagi kader GMNI, adalah momentum untuk mengontekstualisasikan kembali pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Kita bicara tentang Ketuhanan yang Berkebudayaan, di mana tiap-tiap orang dapat menyembah Tuhan-Nya dengan cara yang leluasa tanpa ada egoisme agama," ujar Lofty Romansa, Sabtu (17/01/2026).

Menurut Bung Lofty, tantangan zaman sekarang bukan lagi sekadar perbedaan ritual, melainkan bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi spirit perjuangan kaum Marhaen dalam melawan ketidakadilan.
"Agama jangan hanya berhenti di ruang-ruang privat atau ritual formalistik. Agama harus menjadi tenaga penggerak (leitstar) untuk mewujudkan kemanusiaan dan keadilan sosial. Jangan sampai atas nama agama, kita justru terpecah dan melupakan musuh bersama kita: kemiskinan dan penindasan," tegasnya dengan semangat progresif.
Lebih lanjut, Lofty mengingatkan bahwa Pancasila adalah "titik temu" yang final bagi bangsa yang majemuk. Ia mengajak rekan-rekan mahasiswa, khususnya di Kota Metro, untuk menjadi garda terdepan dalam melawan bibit-bibit intoleransi yang kerap muncul di ruang digital maupun sosial.

"Sebagai kader GMNI, kita punya tugas sejarah untuk menjaga agar api persatuan tetap menyala. Di Hari Agama Sedunia ini, mari kita buktikan bahwa di bawah panji Merah Putih, perbedaan iman adalah kekayaan nasionalisme kita. Kita tidak ingin Indonesia yang seragam, tapi kita ingin Indonesia yang rukun dalam keberagaman," pungkas Lofty.

Pernyataan ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih lanjut di kalangan mahasiswa mengenai peran agama dalam pembangunan nasional serta penguatan karakter bangsa yang Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.